Pada Setiap Perpisahan

Jangan berlinang air mata
Sebab kepergian adalah sepaket kepulangan
Karena kita pernah bahagia dalam temu
Maka perpisahan inilah harga yang harus  dibayar

Jangan berlinang air mata
Karena hidup hanya tentang datang dan pergi
Maka tersenyumlah untuk keduanya
Untukku yang pergi
Untuk yang lain yang akan datang

Jangan berlinang air mata
Karena kenangan takkan meninggalkan kita

Tersenyumlah untukku
Untuk masa lalu yang kau dan aku pernah bahagia bersama
Untuk masa depan yang mungkin juga

Jangan kau lepas aku dengan dukamu
Kita kan slalu bersama meski hanya dalam kenangan
Tidakkah itu sudah cukup membuat kita tersenyum di masa tua?

Tembalang, 2015
Missuntari

Advertisements

Ketika Hujan

image

Google

Aku tak tahu lagi
Mana yang lebih sejuk
Antara hujan ini dan senyummu

Lembaran bahagia dari wajahmu
Kurasakan seperti tetesan hujan di luar
Menenangkan
Tak pernah membuat bibirku bosan tuk mengulum senyum seorang

Ketika hujan.
Aku menatapmu dengan sendu
Meskipun membuatku bahagia
Sadarku bahwa ini hanya sekejap saja

Semarang, 2015

Tawaku berair mata, sudikah Kau mengusapnya, Tuhan?

Aku beriman pada takdir, pada hal-hal yang Kau hendaki terjadi. Namun masihkah aku Kau sebut beriman, jika dalam penerimaannya, aku menangis.

Kali ini bahkan aku menangis pada dua hal yang Kau takdirkan berlawanan. Bahagia yang harus terselip duka.

Rasanya aku ingin berlari menjauhi takdirmu. Namun ketakutanku semakin tumbuh luar biasa. Mengular dan melilit keimanan yang kutanam dalam dada.

Aku tetap bertahan, dan kesakitan. Sungguh kepasrahan mungkinlah sebagai jawaban.

Untari, 2014

Terakhir Kali

1:21 am, waktu yang tertera ketika aku memulai menulis ini. Di tempatmu, mungkin tak sama.
Diiringi rindu, aku mengurai kenangan. Tentangmu yang pernah menemaniku setiap malam.
Telah begitu lama kita tanpa sapa. Bolehkah kali ini? Sekali saja.
Setidaknya, ketika nanti aku tak kembali, kau pernah melepasku dan aku baik-baik saja. Tak seperti waktu lalu.
Aku rindu, dan kau tak merasa apa-apa. Aku sudah terbiasa. Bukankah ini sudah begitu lama?
Tak apa jika kau lupa. Hatiku kini sekuat baja. Seperti yang kau minta.
Tapi sekali ini saja, coba kau lafalkan doa kita. Untuk terakhir kalinya. Karena setelah ini, aku tak mungkin lagi ada.

Surat Untuk Ayah

Sudah lama aku ingin menulismu dalam beberapa kalimat. Namun selalu digagalkan air mata. Hehehe, pasti kau kecewa. Maaf ayah, aku selalu tak kuasa mengingatmu tanpa tetesan air mata. Aku terlalu bangga padamu. Bahagiaku ini, karenamu, juga untukmu.

Ayah, kata maafku tak pernah sampai padamu. Dan meski sejuta maaf aku pinta, tak mungkin menghapus kesalahanku.

Ayah, terima kasih untuk kasihmu. Terima kasih untuk pengorbananmu.

Ayah, jaga bunda baik-baik. Juga jangan lupa jaga diri ayah.
Terima kasih ayah. I love you.

Selamat hari ayah, ayah terhebat.

Karena Aku Wanita

Aku harus pintar bahasa asing. Bukan karena terlihat keren, tapi agar anakku kelak bisa bersaing dengan anak-anak lain.

Aku harus pandai memasak. Untuk menjamin anakku tak lebih memilih jajan di luar.

Aku harus rajin membaca. Untuk menjamin pertanyaan anakku terjawab dengan rinci.

Aku harus rajin jalan-jalan. Untuk dapat bercerita pada anakku betapa indahnya dunia di luat sana.

Aku harus lebih kuat menjalani hidup yang tak tentu. Agar anakku pun kelak tak ragu berpegang pada lenganku.

Ada banyak sekali hal yang harus aku pelajari, aku kuasai dan aku lakukan. Bukan semata-mata untuk diriku. Karena aku wanita. Padaku, bergantunglah masa depan penerus bangsa.

2014

Surat untuk Kita yang Menunggu

Selamat malam, waktu yang selalu kita tunggu, sayang. Tidakkah menunggu membuatmu lelah? Bagiku tidak. Sepanjang waktuku, aku menunggu. Pada tumbuhnya cinta kita, aku juga pernah menunggu.

Selamat malam sayang, malam ini pun aku menunggu. Menunggu senyummu. Atau sepasang matamu. Juga hangat pelukmu. Aku menunggu.

Dari segala hal yang kutunggu, aku lebih menunggu temu. Ayolah sayang, tidakkah kita bisa memaksa waktu? Aku rindu.

Sayang, untukmu, apa yang sedang kau tunggu? Cepat bisikkan padaku. Sebelum pagi menelan tunggu dan temu, hingga hanya menyisakan pilu.

2014

Surat untuk Emak

Mak, maafkan anakmu. Selama 22 tahun ini tak pernah berhenti membuatmu lelah. Kau terus bekerja keras demi aku, yang bahkan berterima kasih pun tak mampu.
Mak, maafkan anakmu. Selama 22 tahun ini terus saja menjadi pembangkang handal. Selalu melihat nasihatmu sebagai ocehan tak berguna, bahkan aku sering berlari menjauh ketika mulai mendengarmu ‘berpidato’.
Mak, maafkan anakmu. Selama 22 tahun ini tak pernah menurut, bahkan justru selalu menuntut untuk kau bahagiakan. Tanpa aku sadari bahwa dirimu pun butuh kebahagiaan.
Mak, maafkan anakmu. Sampai di usia ini aku masih belum bisa memberimu sesuatu. Sekedar senyuman hangat pun tak pernah kau dapat dariku. Padahal kau juga butuh pelukan, setelah lelah mengurus rumah.
Mak, saat ini aku tak bisa pulang. Tolong, sembuhlah.

Beberapa Saat Sejak Kau Kuseduh

Setelah kuseduh, aku harus menghabiskanmu sesegera mungkin. Karena jika tidak, kau tak lagi nikmat.

Mungkin, begitulah hidup mempermainkan kita. Kau dan aku tak boleh bersama lebih lama. Padahal apa salahnya menahanmu tetap nikmat sejam setelah seduhanku? Tak habis pikir aku dibuatnya. Aku hanya ingin mencecapmu dengan lambat, menikmati manismu dengan lekat.

Aku tak ingin selamanya seperti ini. Kuperjuangkan kau bersamaku lebih lama, dan tetap sedap. Namun kau yang lemah tak pernah mempercayaiku. Kau memaksaku tetap menenggak seperti biasa. Kita akhirnya berdebat, panjang. Merasa pendapatnya yang paling benar.

Kau tiba-tiba menangis, dan tentu tak kugubris. Aku tahu kebiasaanmu. Kau selalu menangis ketika aku tak meng-iya-kan inginmu. Tapi aneh, sore ini tangismu berbeda. Tangis yang lebih pedih dari luka goresan pada lenganku.

Lalu kudengar lirih kau berkata, “ maaf, aku memang tak seharusnya kau perjuangkan. Aku tak mampu bersamamu lebih lama. Kini, rasaku telah berbeda”.

Oktober, 2014

Aku Takut Menjadi Biasa Saja

Aku takut marahku menjadi biasa,  rinduku menjadi biasa, pun cintaku menjadi biasa.

Aku takut menjadi lupa, bahwa mencintaimu tak boleh sekali saja.

Namun haruskah hanya aku yang berusaha lebih sering jatuh cinta?
Hanya aku yang harus menjaga agar perasaanku tidak biasa saja?
Seharusnya kau juga!